buku lagi buku lagi

Sebagai orang yang suka sekali membaca, saya senang sekali main ke toko buku setiap kali ke luar negeri. Waktu ke Singapura bersama teman-teman, saya main ke Bras Basah dan menemukan banyak buku seken yang saya cari dengan harga murah (sekitar 30 ribu rupiah). Di Taipei, saya berkunjung ke Page One yang berada di dalam Taipei 101 Mall dan dua cabang Eslite yang sangat populer di sana karena buka sampai 24 jam (kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari Hotel Grand Hyatt tempat saya menginap, jadi saya tinggal jalan kaki). 

Ada kejadian menarik sewaktu saya sedang mencari-cari lokasi Eslite seorang diri, jalan kaki dari hotel, berbekal peta kecil yang diberikan oleh pihak hotel. Ketika sedang celingukan, bingung karena tidak menemukan nama jalan yang saya cari, saya coba bertanya pada seorang gadis cantik yang sedang lewat. Saya tunjukkan peta itu, yang di dalamnya tertera tulisan Eslite dalam bahasa Inggris maupun Cina, lalu saya bertanya: Where is this?

Betapa kagetnya saya karena ternyata dia tuli dan berbicara layaknya Marlee Matlin di serial televisi zadul Reasonable Doubts yang dulu sangat saya gandrungi (Mark Harmon ganteng banget di situ :p). Dia baik sekali. Ketika saya tidak memahami jawabannya, ia mengisyaratkan supaya saya mengikutinya. Ternyata dia juga bermaksud mendatangi toko buku tersebut, jadi saya tinggal mengekor saja. Andai saya tidak bertanya, besar kemungkinan saya akan selamanya sesat di jalan, karena si Eslite ternyata ada di dalam gedung pertokoan yang dari luar tidak terlihat seperti pertokoan :p

Kali keempat saya ke Singapura, kali ini seorang diri, saya memuaskan diri dengan sowan ke Borders, Kinokuniya, dan Harris. Kecuali Kinokuniya, waktu itu sedang ada sale sampai 50%, jadilah saya pulang ke tanah air membawa oleh-oleh buku. Di Kuala Lumpur belum lama ini, saya dan seorang teman juga sukses membeli beberapa buku di Borders dan Kinokuniya. Sayang, kami sempat kecewa berat karena Borders di mal Berjaya Group Berhad, yang diklaim sebagai Borders kedua terbesar di dunia, ternyata lebih kecil dibandingkan cabang Singapura. Katanya sih toko buku ini dulunya memang sangat besar, tapi kemudian direnovasi sehingga hanya menempati satu lantai.  

Kadang-kadang saya mikir, ngapain ke luar negeri malah beli buku? Tapi ya saya memang menikmatinya. Saya jarang sekali belanja baju, kecuali waktu di Bangkok, karena saya sudah jatuh cinta dengan produk distro Bandung dan tak mau pindah ke lain hati. Sedangkan buku, well, it’s just seems worth it to buy anywhere. Tapi saya selalu membelinya pas ada diskon saja kok, kecuali waktu di Eslite. Saya “terpaksa” membeli sebuah novel supaya punya kenang-kenangan saja (berhubung sedang tidak ada diskon), karena siapa tahu saya tidak berkesempatan ke sana lagi :p

Oh ya, soal distro Bandung, saya sempat mengalami kejadian lucu sewaktu menemani teman membeli coklat di salah satu toko di KLCC Suria Mall. Sementara teman saya memilih coklat, saya yang sedang berdiri di depan kasir, mendapati sang kasir, seorang pemuda bertampang melayu, berulang kali menatap saya dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kenapa dia? pikir saya. Akhirnya kebingungan saya terjawab ketika dia tiba-tiba berkata: Baju, Ouval. Tas, Gummo. Pasti orang Indonesia ya?

Waa, saya senang sekali, ternyata ada yang mengenali produk buatan anak bangsa! Saya langsung bertanya: Kamu dari Indonesia? Tapi cuma ditanggapinya dengan senyam-senyum tanpa mengkonfirmasi. Dugaan saya sih, kalau dia bukan orang Indonesia, mungkin dia anak muda Malaysia yang juga ngefans sama distro Bandung😀

About kcplanet

Female. Indonesian. Love reading, traveling, listening to music, watching movies.

3 responses to “buku lagi buku lagi

  1. riza

    wah gue juga sama ama lo . Tiap jalan2 kemana pun, bookstore selalu jadi tempat favorit yang wajib gue kunjungin. Kinokuniya dan Popular jelas favorit gue banget !! >> http://www.kinokuniya.com.sg , http://www.popular.com.sg

  2. hai hai rizaaaa. tengkyu for visiting my blog🙂 ternyata hobi kita sama yaa. gw malah belom pernah deh ke Popular. laen kali gw mampir situ deh kalo ke sing lagi hehe.

  3. Kinokuniya di downtown Sydney sini lengkap banget, koleksi-koleksinya ada dalam banyak bahasa. Kapannya ngebrowse komik jepang yang bhs indo-nya belum terbit, Topeng Kaca Bidadari Merah (no 10 ya, kalo ga salah, no buku Jepangnya 44-Garasu no kamen). Koleksi komiknya besar, dan buku yang aku cari pun ada😀 meskipun butuh waktu yang lumayan lama untuk menerjemahkan, tapi puas😀

    Jadi inget masa-masa smp-sma dulu, di deket rumah ada buka toko buku Gramedia, kira-kira 3 menit jalan kaki. Sering banget nongkrong baca buku di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My stats

  • 86,138 hits

You clicked these

February 2010
M T W T F S S
    Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

My blablabla on twitter

%d bloggers like this: